Pelajari perbedaan House of Brands dan Branded House dalam brand architecture, lengkap dengan kelebihan, kekurangan, dan kapan strategi ini paling tepat digunakan untuk bisnis.
Ketika bisnis mulai berkembang, menambah produk, membuat lini baru, atau bahkan mengakuisisi brand lain, pertanyaan ini hampir pasti muncul: apakah semua produk harus memakai satu nama brand utama, atau lebih baik dibuat brand-brand terpisah?
Inilah yang disebut sebagai brand architecture—cara sebuah perusahaan menyusun portofolio brand-nya agar jelas, terarah, dan efektif di pasar. Dua model yang paling sering dibandingkan adalah House of Brands dan Branded House.
Masing-masing punya keunggulan dan risiko yang berbeda. Artikel ini akan membahas perbedaan keduanya, kapan harus memakai yang mana, serta bagaimana memilih strategi yang paling cocok dengan kondisi bisnis kamu.
1. Apa Itu Brand Architecture?
Brand architecture adalah struktur yang menjelaskan hubungan antara:
- brand induk (corporate brand)
- sub-brand (produk atau layanan turunan)
- brand dalam portofolio perusahaan (brand-brand lain yang dimiliki)
Tujuannya:
- membuat strategi brand lebih jelas
- memudahkan konsumen memahami produk
- mengoptimalkan biaya marketing
- menghindari kebingungan positioning
- menjaga reputasi brand dalam jangka panjang
Ketika struktur brand tidak jelas, perusahaan sering mengalami “brand confusion” — produk banyak, tetapi identitasnya tidak kuat.
2. Branded House: Semua Produk di Bawah Satu Brand Utama
Branded House adalah strategi di mana satu brand utama menjadi “payung” untuk semua produk atau layanan. Nama corporate brand sangat dominan dan sub-produk hanya menjadi bagian dari brand tersebut.
Contoh struktur:
- Brand utama → Produk A, Produk B, Produk C (nama tetap membawa brand utama)
Ciri-ciri Branded House:
- konsumen mengenali satu brand yang sama
- produk turunan mendapat trust dari brand utama
- brand equity terkumpul pada satu nama
3. House of Brands: Banyak Brand Terpisah di Bawah Satu Perusahaan
House of Brands adalah strategi di mana perusahaan memiliki banyak brand berbeda dan masing-masing berdiri sendiri di pasar. Corporate brand biasanya tidak terlalu terlihat oleh konsumen.
Contoh struktur:
- Perusahaan → Brand A, Brand B, Brand C (identitas terpisah)
Ciri-ciri House of Brands:
- tiap brand punya positioning sendiri
- bisa menyasar segmen pasar berbeda
- risiko reputasi tersebar, tidak bertumpu pada satu brand saja
4. Kelebihan dan Kekurangan Branded House
Kelebihan Branded House
- lebih hemat biaya marketing karena membangun satu brand utama
- trust lebih cepat terbentuk untuk produk baru
- brand awareness lebih kuat karena semua promosi menambah nilai pada brand yang sama
- lebih mudah cross-selling karena produk terasa satu ekosistem
Kekurangan Branded House
- risiko reputasi tinggi: satu masalah bisa memengaruhi semua produk
- lebih sulit masuk segmen berbeda karena brand sudah punya “image” kuat
- lebih rentan brand dilution jika terlalu banyak produk yang tidak konsisten
Branded House cocok untuk brand yang ingin membangun satu identitas besar dan kuat, tetapi harus menjaga konsistensi kualitas dan positioning.
5. Kelebihan dan Kekurangan House of Brands
Kelebihan House of Brands
- bisa menargetkan segmen berbeda tanpa benturan positioning
- fleksibel untuk ekspansi karena setiap brand bisa punya personality sendiri
- risiko reputasi terpisah: jika satu brand gagal, tidak selalu menjatuhkan brand lain
- lebih cocok untuk akuisisi karena brand yang dibeli bisa tetap dipertahankan
Kekurangan House of Brands
- biaya marketing lebih besar karena membangun banyak brand
- brand equity tersebar sehingga tidak terkonsentrasi pada satu nama
- manajemen lebih kompleks karena banyak strategi, tim, dan identitas
- cross-selling lebih sulit karena brand tidak terasa satu keluarga
House of Brands cocok untuk perusahaan yang ingin bermain di banyak kategori dan segmen, tetapi harus siap dengan biaya dan kompleksitas yang lebih tinggi.
6. Kapan Harus Pakai Branded House?
Gunakan Branded House jika bisnis kamu:
- ingin membangun satu brand utama yang dominan
- punya produk yang saling berhubungan dalam satu ekosistem
- menargetkan segmen yang masih sejalan
- ingin efisiensi marketing dan pertumbuhan brand equity cepat
- percaya diri dengan kualitas dan konsistensi brand
Biasanya Branded House cocok untuk:
- perusahaan teknologi (produk dalam satu platform)
- layanan yang punya sistem terpadu
- brand yang ingin dikenal sebagai “the one brand” di kategorinya
7. Kapan Harus Pakai House of Brands?
Gunakan House of Brands jika bisnis kamu:
- ingin masuk kategori yang sangat berbeda
- menargetkan segmen pasar yang berbeda jauh
- punya risiko reputasi tinggi di salah satu kategori
- melakukan akuisisi brand dan ingin mempertahankan equity-nya
- butuh fleksibilitas positioning tanpa terbebani image corporate brand
Biasanya House of Brands cocok untuk:
- perusahaan FMCG dengan banyak produk dan segmen
- bisnis yang bermain di berbagai tingkat harga (premium dan mass)
- perusahaan besar yang ingin menguasai banyak niche sekaligus
8. Cara Memilih yang Paling Tepat: 5 Pertanyaan Kunci
Kalau kamu masih bingung, jawab pertanyaan ini:
- Apakah semua produk kamu menyasar target audiens yang sama?
- Apakah reputasi brand utama cukup kuat untuk “mengangkat” produk lain?
- Apakah kamu siap menanggung risiko reputasi jika satu produk bermasalah?
- Apakah kategori produk kamu saling relevan atau sangat berbeda?
- Apakah budget dan tim kamu cukup untuk membangun lebih dari satu brand?
Jika jawabannya banyak mengarah ke “satu ekosistem, satu target, efisien”, biasanya Branded House lebih cocok. Jika jawabannya mengarah ke “segmen berbeda, kategori beda, risiko reputasi”, House of Brands lebih masuk akal.
9. Strategi Tengah: Hybrid atau Endorsed Brand
Dalam praktiknya, banyak bisnis tidak sepenuhnya “murni” Branded House atau House of Brands. Ada strategi tengah seperti:
- Endorsed brand (brand utama mendukung, tapi sub-brand tetap kuat)
- Hybrid (beberapa kategori branded house, beberapa kategori house of brands)
Model ini sering dipakai saat perusahaan ingin fleksibel, tapi tetap menjaga kekuatan brand utama.
Kesimpulan
Brand architecture menentukan arah jangka panjang sebuah bisnis. Branded House cocok saat kamu ingin membangun satu brand besar yang kuat, efisien, dan terintegrasi. Sementara House of Brands cocok saat kamu ingin bermain di banyak segmen dan kategori dengan positioning yang berbeda tanpa saling mengganggu.
Tidak ada strategi yang “paling benar” untuk semua bisnis. Yang penting adalah memahami tujuan ekspansi, target pasar, risiko reputasi, serta kemampuan tim dan budget. Ketika struktur brand jelas, pertumbuhan bisnis jadi lebih rapi, konsumen lebih mudah memahami produk, dan nilai brand bisa berkembang lebih kuat dalam jangka panjang.
Baca juga :
- Membuat Naming Brand yang Nempel: Prinsip, Contoh, dan Kesalahan Umum
- Brand Audit untuk UMKM: Checklist Mengecek Identitas Brand yang Perlu Dibenerin
