Panduan membuat nama brand yang mudah diingat: prinsip naming, tipe-tipe nama, contoh ide per kategori, cara cek “nempel”, serta kesalahan umum yang bikin brand susah berkembang.
Nama brand itu bukan cuma “label”—nama adalah pintu pertama yang menentukan apakah orang akan ingat, salah sebut, atau bahkan skip. Nama yang nempel membuat pemasaran lebih ringan: mudah direkomendasikan, mudah dicari, dan terlihat lebih profesional. Sebaliknya, nama yang rumit bikin biaya promosi jadi lebih mahal karena kamu harus menjelaskan terus-menerus.
Kabar baiknya: naming brand itu bukan soal bakat semata. Ada prinsip yang bisa dipakai siapa saja.
1) Prinsip Utama Nama Brand yang Nempel
Nama yang bagus biasanya punya kombinasi 5 prinsip ini:
A. Mudah diucapkan (pronounceable)
Kalau orang takut salah sebut, mereka cenderung menghindari menyebut brand kamu.
Checklist:
- sekali baca langsung tahu cara ngomongnya
- tidak terlalu banyak konsonan beruntun
- tidak bikin lidah “ketarik”
B. Mudah diingat (memorable)
Nama nempel biasanya:
- pendek, ritmenya enak
- punya bunyi yang unik
- atau punya asosiasi kuat
C. Punya “hook” makna (meaningful)
Tidak harus literal, tapi ada arah:
- vibe premium, hangat, fun, clean, tradisional, modern, dll.
D. Bisa berkembang (scalable)
Nama yang terlalu spesifik bisa mengunci kamu.
Contoh:
- “KueNanasBunda” mungkin cocok sekarang, tapi kalau nanti jual cookies, minuman, atau gift box, nama terasa sempit.
E. Aman dipakai (distinct)
Nama harus cukup beda agar tidak mudah ketukar dengan brand lain.
2) Jenis-Jenis Naming (Biar Kamu Gampang Pilih Gaya)
Ini tipe nama brand yang paling umum, plus kapan cocok dipakai:
1. Deskriptif (langsung menjelaskan)
Contoh gaya: “Kopi Harian”, “Laundry Express”
Cocok untuk: UMKM lokal yang butuh cepat dimengerti
Risiko: kurang unik, mudah ketiru
2. Evokatif (membangkitkan rasa)
Contoh gaya: “Senja”, “Rimbun”, “Hangat”
Cocok untuk: brand lifestyle, F&B, skincare, home decor
Kelebihan: terasa emosional dan lebih “brandable”
3. Akronim/Initial
Contoh gaya: singkatan 2–4 huruf
Cocok untuk: B2B atau brand yang ingin formal
Risiko: sulit diingat kalau tidak punya cerita kuat
4. Invented / Neologism (kata baru)
Contoh gaya: gabungan suku kata
Cocok untuk: brand yang ingin unik dan mudah didaftarkan
Risiko: butuh edukasi awal (karena orang belum familiar)
5. Nama Pendiri (Founder-based)
Contoh gaya: “Alya Studio”, “Raka Leather”
Cocok untuk: jasa kreatif, produk craft, personal brand
Risiko: kalau ingin dijual/scale besar, kadang terasa terlalu personal
3) Rumus Praktis Bikin Kandidat Nama (Biar Tidak Mentok)
Coba 3 metode ini:
Metode A: 3 Kata Kunci Brand
Tulis 3 kata yang menggambarkan brand kamu, misalnya:
- “clean – ringan – modern”
- “hangat – rumahan – jujur”
- “cepat – rapi – terpercaya”
Lalu mainkan jadi:
- sinonim (bahasa Indonesia / Inggris / bahasa daerah)
- gabungan suku kata
- versi pendek (2–3 suku kata)
Metode B: “Objek + Rasa”
Contoh pola:
- “Rona + Kitchen”
- “Rimbun + Studio”
- “Sora + Goods”
Objek memberi konteks, rasa memberi karakter.
Metode C: Bunyi yang Enak (phonetic)
Nama yang bunyinya enak sering nempel walau sederhana:
- 2–3 suku kata
- repetisi bunyi (aliterasi)
- ritme ringan
Contoh pola bunyi:
- Ka–Ki, Sa–Si, Mi–Mo (bukan contoh nama final, tapi pola bunyinya)
4) Contoh Ide Nama (Berdasarkan Niche, Biar Kebayang)
Bukan untuk ditiru mentah-mentah, tapi sebagai inspirasi pola:
Untuk F&B rumahan
- HangatRasa
- Dapur Sore
- Rasa Rona
- Piring Kecil
Untuk skincare / bodycare
- Luma Skin
- Sora Botanics
- Dewi Glow (lebih lokal)
- Purekind
Untuk home decor / craft
- Rimbun Living
- Kriya House
- Oka Studio
- Nusa Goods
Untuk jasa (agency/freelance)
- Atlas Creative
- Kawan Studio
- Tumbuh Co.
- Rangka Works
5) Cara Tes: Apakah Nama Ini Benar-Benar “Nempel”?
Sebelum kamu jatuh cinta sama satu nama, tes pakai 5 cara ini:
- Tes sebut 1x
Minta teman dengar sekali lalu ulangi 5 menit kemudian. Kalau lupa/keliru, kurang nempel. - Tes ejaan
Suruh teman tulis nama berdasarkan bunyi. Kalau ejaannya kacau, akan susah dicari online. - Tes konteks
Ucapkan dalam kalimat:- “Aku beli di ___”
- “Coba cek ___ di Instagram”
Kalau terasa aneh, pertimbangkan lagi.
- Tes visual
Bayangkan jadi logo kecil di foto profil. Masih kebaca? - Tes “bisa diperluas”
Bayangkan 2 tahun lagi, kamu jual produk lain. Nama ini masih masuk?
6) Kesalahan Umum yang Bikin Naming Gagal
Ini yang paling sering kejadian:
- terlalu panjang (orang malas menyebut)
- ejaan ribet (orang tidak bisa cari)
- terlalu generik (“Official Store”, “Best Shop”, “Quality Product”)
- terlalu mirip kompetitor (mudah ketukar)
- terlalu spesifik ke 1 produk padahal ingin ekspansi
- ikut tren bahasa yang cepat basi (nama jadi terasa “era tertentu”)
Kesimpulan
Membuat nama brand yang nempel itu gabungan antara mudah diucapkan, mudah diingat, punya karakter, scalable, dan cukup unik. Mulailah dari kata kunci brand, pilih gaya naming yang sesuai, buat banyak kandidat, lalu uji dengan tes sederhana (sebut–eja–konteks–visual–scale). Hindari nama terlalu panjang, terlalu generik, dan terlalu sempit agar brand kamu lebih siap tumbuh.
Baca juga :
- Brand Audit untuk UMKM: Checklist Mengecek Identitas Brand yang Perlu Dibenerin
- Cara Menentukan Positioning Brand: Biar Nggak “Mirip” Kompetitor